https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/issue/feed Proceeding of Health Polytechnic Jakarta I 2025-12-10T09:07:57+07:00 Husnul Khatimah [email protected] Open Journal Systems <p>These proceedings contain scientific publications from the 1st conference held by the Health Polytechnic of the Indonesian Ministry of Health since 2025. The PIC provides a scientific platform for local and international scientists and technologists working in various medical and health fields. In addition to published papers, renowned international experts from various countries were also invited to deliver keynotes at the 1st Jakarta Health Polytechnic of the Indonesian Ministry of Health International Conference.</p> https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2866 IMPLEMENTASI MODEL APLIKASI STROKE STRIC BERBASIS ANDROID PADA KADER KESEHATAN 2025-12-10T08:15:11+07:00 Tarwoto Tarwoto [email protected] Argianto Argianto [email protected] <p>Stroke merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, di mana pencegahan melalui deteksi dini faktor risiko<br>menjadi kunci utama. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan aplikasi deteksi risiko stroke<br>(STRIC) berbasis android kepada kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Cilandak Barat. Metode kegiatan meliputi sosialisasi,<br>edukasi, dan pelatihan penggunaan aplikasi yang dievaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil kegiatan<br>menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai faktor risiko stroke sebesar 54% setelah intervensi. Selain itu,<br>94% peserta menyatakan aplikasi STRIC mudah digunakan dan 100% peserta merasa aplikasi ini bermanfaat untuk membantu<br>mengontrol risiko stroke. Disimpulkan bahwa implementasi aplikasi STRIC efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan dapat<br>menjadi alat bantu yang praktis bagi kader kesehatan untuk melakukan skrining dini risiko stroke di masyarakat.</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2867 PENINGKATAN KEMAMPUAN KADER DAN KELUARGA DALAM PERTOLONGAN PENDERITA STROKE ORTOSIS DI PUSKESMAS CILANDAK TIMUR 2025-12-10T08:20:52+07:00 Deby Eka Supadma [email protected] Tri Riana Lestari [email protected] Suci Anastasia [email protected] <p>Prevalensi stroke di Indonesia masih menjadi masalah <br>kesehatan yang serius. Berdasarkan data Riset Kesehatan <br>Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi stroke di Indonesia <br>mengalami peningkatan. Stroke juga tetap menjadi penyebab <br>utama kematian di rumah sakit dengan tingkat kecacatan <br>yang tinggi, mencapai 65%. Secara spesifik di DKI Jakarta, <br>rehabilitasi pasca-stroke sangat krusial untuk memulihkan <br>kemandirian pasien dan mencegah komplikasi lebih lanjut.<br>Oleh karena itu, penggunaan alat bantu seperti ortosis, <br>termasuk WHO (Wrist Hand Orthosis) dan AFO (Ankle Foot <br>Orthosis), sangat direkomendasikan untuk menunjang proses <br>rehabilitasi. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan <br>untuk memberdayakan kader dan keluarga agar mampu <br>memberikan pertolongan yang tepat kepada penderita stroke <br>yang menggunakan alat bantu tersebut, sehingga dapat <br>mendukung proses pemulihan secara optimal dan <br>mengurangi risiko kecacatan permanen</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2868 Peran Kader Posyandu dalam Mendukung Keberhasilan Menyusui di Depok 2025-12-10T08:25:21+07:00 Fitria Sari [email protected] Yuna Trisuci Aprillia [email protected] Laila Ulfa [email protected] Mijil Mustiko Ningrum [email protected] Winda Lestari [email protected] <p>WHO menyarankan agar anak diberikan ASI lanjutan hingga berumur dua tahun<br>(WHO &amp; UNICEF, 2021). ASI dan asupan makanan yang cukup dapat membantu<br>peningkatan kadar gizi anak selama masa pertumbuhan. Selain itu juga menurunkan<br>risiko dari berbagai macam penyakit (Hizriyani and Aji 2021) . Sekitar 79 dari 100 anak<br>umur 0–23 bulan yang pernah dan masih diberi ASI (Badan Pusat Statistik 2024).<br>Berdasarkan amanat Peraturan Presiden No. 72 tahun 2021, target ASI eksklusif 0-5<br>bulan pada tahun 2024 sebesar 80%. Oleh karena itu diperlukan kerjasama lintas<br>sektor untuk mencapai target cakupan ASI (Presiden Republik Indonesia 2021</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2869 THE IMPACT OF ELECTROTHERAPY DEVICES ON PATIENT WITH HALLUTINATIONS: A LITERATURE REVIEW 2025-12-10T08:29:20+07:00 Heni Nurhaeni [email protected] Hikmawati Hikmawati [email protected] <p>abstract</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2871 ASISTENSI IMPLEMENTASI DAN EDUKASI PMT LOKAL SESUAI STANDAR, PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA, DAN IMUNISASI PADA PROGRAM INVESTING IN NUTRITION AND EARLY YEARS (INEY) 2025-12-10T08:32:17+07:00 Husnul Khatimah [email protected] Masita Masita [email protected] Siti Rahmadani [email protected] Devi Azriani [email protected] Sudiyati Sudiyati [email protected] Isroni Astuti [email protected] Kurniawati Kurniawati [email protected] Ii Sholihah [email protected] Hariyanti Hariyanti [email protected] Erlin Puspita [email protected] Vini Yuliani [email protected] Putri Yuniarti [email protected] <p>Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan<br>menurut umur berada di bawah standar WHO. Dampaknya tidak hanya menghambat<br>pertumbuhan fisik, tetapi juga menurunkan kecerdasan, imunitas, dan produktivitas di<br>masa depan (1). Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi<br>stunting nasional sebesar 19,8% (2). Pemerintah menargetkan prevalensi turun menjadi<br>14,2% pada 2029 (3) . Upaya pencegahan stunting memerlukan intervensi terintegrasi.<br>Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal sesuai standar berperan penting dalam<br>mencukupi kebutuhan gizi balita. Pemantauan pertumbuhan balita secara rutin juga<br>krusial untuk deteksi dini masalah gizi. Selain itu, imunisasi dasar lengkap berfungsi<br>mencegah penyakit infeksi yang dapat memperparah kekurangan gizi dan memperlambat<br>pertumbuhan</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2872 EDUKASI PEDOMAN GIZI SEIMBANG DENGAN MEDIA KOMIK: PENGARUH PADA PENGETAHUAN DAN SIKAP ANAK SD EDUKASI PEDOMAN GIZI SEIMBANG DENGAN MEDIA KOMI 2025-12-10T08:39:29+07:00 Idha Ayu Anggraini [email protected] Tri Siswati [email protected] Idi Setyobroto [email protected] <p>Anak usia sekolah termasuk kelompok rentan gizi. Survei<br>Kesehatan Indonesia 2023 di DIY menunjukkan prevalensi gizi<br>tidak seimbang pada usia 5–12 tahun: sangat kurus 1,5%,<br>kurus 8,5%, gemuk 12,2%, dan obesitas 9,4%. Untuk<br>meningkatkan pengetahuan dan sikap gizi seimbang, salah satu<br>cara yang dapat dilakukan yaitu dengan edukasi. Edukasi<br>dapat dilakukan melalui edukasi yang cukup menarik salah<br>satunya yaitu dengan media komik</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2873 EDUKASI PHBS RUMAH TANGGA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING 2025-12-10T08:42:44+07:00 Indra Martias [email protected] Luh Pitriyanti [email protected] Risman Kurnia [email protected] Rinaldi Daswito [email protected] Hevi Horiza [email protected] <p>Penerapan PHBS merupakan langkah penting dalam<br>mencegah berbagai penyakit pada anak, seperti diare yang<br>mengganggu metabolisme tubuh dan mengakibatkan stunting<br>pada anak. <br>Peneliti sebelumnya membuktikan adanya kaitan PHBS<br>dengan stunting terkait penggunaan air bersih (Aprizah, 2021)<br>Data stunting Kota Tanjungpinang sebesar 15,2% dimana<br>target pemerintah pusat adalah menurunkan angka stunting di<br>bawah 14 persen (Dinkes, 2024).<br>Tujuan Pengabmas adalah melakukan edukasi PHBS berkaitan<br>dengan stunting dengan sasaran ibu rumah tangga.</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2874 PERINGATAN DIFABEL DAY 2022 2025-12-10T08:47:22+07:00 Naisya Putri Florita [email protected] Roro Andini [email protected] Ocktavianus Agung [email protected] <p>Hari Disabilitas Internasional yang ditetapkan PBB setiap 3 Desember menjadi<br>momentum untuk meningkatkan kesadaran akan kesetaraan hak penyandang<br>disabilitas. Menurut WHO, lebih dari 15% penduduk dunia hidup dengan disabilitas,<br>dan data BPS menunjukkan masih banyak yang tidak mengenyam pendidikan.<br>Melalui Difabel Day 2022, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes<br>Kemenkes Jakarta I ingin menyuarakan inklusivitas dan peran ortotik prostetik<br>dalam mendukung kesehatan dan kemandirian penyandang disabilitas</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2875 DIFFERENT ABILITIES, EQUAL OPPORTUNITIES 2025-12-10T08:50:18+07:00 Ocktavianus Agung [email protected] Roro Andini [email protected] Naisya Putri Florita [email protected] <p>POSTER</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2876 INTERPERSONAL EDUCATION GIZI DAN LAYANAN KOMPLEMENTER BAGI IBU HAMIL DALAM PENCEGAHAN STUNTING 2025-12-10T08:55:33+07:00 Sjenny O. Tuju [email protected] Sandra G. J Tombokan [email protected] Atik Purwandari [email protected] Nita R.Momongan [email protected] Anis Novitasari [email protected] <p>Tempe: tinggi protein (15 g/84 g tempe), mengandung kalsium (166<br>g setara 2/3 segelas susu), prebiotik, murah, dan baik untuk<br>mencegah stunting<br>Daun Kelor: banyak kandungan gizi yang dapat mencegah stunting<br>Jagung: sebagai sumber karbohidrat dan energi otak</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2878 PEMBERDAYAAN KADER & MASYARAKAT: DETEKSI DINI DIABETES MELITUS DENGAN GLUKOMETER NON-INVASIF 2025-12-10T09:07:57+07:00 Yudha Anggit Jiwantoto [email protected] <p>Diabetes Melitus (DM) dijuluki sebagai silent killer karena tanpa gejala jelas, namun prevalensinya terus<br>meningkat di Indonesia. Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih enggan melakukan pemeriksaan<br>gula darah secara rutin, baik karena rasa takut terhadap jarum maupun keterbatasan akses layanan<br>kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan program edukasi dan pendampingan yang mendorong masyarakat<br>untuk lebih sadar akan pentingnya pemeriksaan rutin, serta upaya pengadaan alat cek gula darah yang lebih<br>memadai agar pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan di tingkat desa<br>(Hermayunita, 2019; Laudya et al., 2020). Kondisi ini menyebabkan banyak kasus DM baru terdeteksi<br>setelah muncul komplikasi serius. Kehadiran glukometer non-invasif menawarkan solusi inovatif: alat ini<br>mampu mengukur kadar gula darah tanpa perlu tusukan jari, sehingga lebih nyaman, mudah digunakan, dan<br>efektif mengurangi hambatan psikologis terhadap pemeriksaan (IDF, 2021; Kaptiningsih et al., 2023)</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2838 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI INOVASI KEBUN GIZI DALAM MENCEGAH STUNTING DI DESA BINAAN GELANGSAR LOMBOK BARAT 2025-12-05T07:38:55+07:00 Dany Karmil [email protected] Aena Mardiah [email protected] Musyarrafah Musyarrafah [email protected] <p><strong>Latar Belakang</strong> : Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis. Salah satu Provinsi yang ada di Indonesia yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu Provinsi prioritas penanganan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Provinsi NTB mengalami peningkatan dari 31,4% pada tahun 2021 menjadi 32,7% di tahun 2022. Inovasi kebun gizi merupakan&nbsp;&nbsp; suatu&nbsp;&nbsp; program&nbsp;&nbsp; yang&nbsp;&nbsp; berbasis&nbsp;&nbsp; pada pemanfaatan&nbsp; aset&nbsp; lahan&nbsp; tidur&nbsp; dengan&nbsp; melibatkan&nbsp; peran&nbsp; masyarakat&nbsp; untuk&nbsp; pelaksanaannya guna meningkatkan akses dan ketersediaan pangan dalam mencegah stunting.&nbsp; Tujuan dari pengabdian ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dan ibu balita dalam menanam dan memanfaatkan lahan di sekitar rumah menjadi kebun gizi yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.</p> <p><strong>Metode</strong> : Awal pembentukan kebun gizi, masyarakat diberikan edukasi mengenai menu sehat anak balita, kemudian masyarakat memperoleh pelatihan pembuatan pupuk kompos dan takakura serta stimulasi menanam sayur dan buah oleh pakar di bidang pertanian setelah itu dilakukan monitoring dan evaluasi oleh tim pengabdi.</p> <p><strong>Hasil</strong> : Inovasi kebun gizi berkontribusi pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku masyarakat dalam pemenuhan gizi seimbang. Kebun gizi tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai sarana edukasi gizi yang praktis dan berkesinambungan. Partisipasi aktif masyarakat dan kader posyandu menjadi kunci keberhasilan, sementara dukungan aparat desa memperkuat aspek keberlanjutan program. Model ini dapat direplikasi di wilayah lain sebagai upaya pencegahan stunting berbasis komunitas.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong> : Kombinasi intervensi berupa edukasi gizi, peningkatan ketersediaan pangan sehat, dan pemberdayaan masyarakat dianggap lebih efektif dibandingkan intervensi tunggal.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2840 DETEKSI RESIKO ULKUS KAKI PADA PASIEN DIABETES DALAM RANGKA HARI JADI KOTA BOGOR KE 542 TAHUN 2025 2025-12-05T07:51:06+07:00 Raden Achmad Candra Putra1 [email protected] Dhanny Widhata Mahardhika2 [email protected] <p>Ulkus kaki diabetik seringkali diawali oleh tekanan abnormal yang berulang pada telapak kaki, yang sulit dideteksi secara visual akibat neuropati perifer. *Harrismat*, atau *Harris and Beath footprinting mat*, adalah sebuah alat diagnostik yang dirancang untuk mengatasi masalah ini. Alat ini bekerja dengan mencetak pola jejak kaki untuk menganalisis distribusi tekanan plantar pada kaki.</p> <p>Pada kegiatan pengabdian masyarakat ini mengeksplorasi penggunaan Harrismat sebagai metode skrining non-invasif dan objektif untuk mengidentifikasi area bertekanan tinggi yang berpotensi menjadi lokasi ulserasi. Metode ini melibatkan analisis cetakan kaki yang dihasilkan oleh pad atau bantalan tinta, di mana area yang gelap atau pekat menunjukkan titik-titik dengan tekanan tertinggi. Data yang dihasilkan dapat membantu Ortotis Prostetis dalam merancang intervensi yang disesuaikan, seperti sepatu ortotik kustom atau alas kaki insole, untuk mendistribusikan ulang tekanan dan mengurangi risiko ulkus.</p> <p>Kesimpulannya, penggunaan Harrismat memberikan evaluasi kuantitatif yang berharga tentang profil tekanan kaki pasien. Alat ini merupakan tambahan penting dalam skrining kaki diabetik, memungkinkan deteksi dini dan pencegahan yang lebih efektif sebelum luka benar-benar terbentuk.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2842 PENGUATAN LAYANAN PRIMER MELALUI DETEKSI KAKI DIABETES DAN EDUKASI BPJS ORTOTIK PROSTETIK 2025-12-05T16:49:41+07:00 Feryanda Utami [email protected] Raden Achmad Candra Putra [email protected] Agusni Karma [email protected] Triyani Triyani [email protected] Bara Miradwiyana [email protected] <p>Penyakit Tidak Menular (PTM) khususnya diabetes melitus merupakan masalah kesehatan global yang berdampak besar terhadap kualitas hidup masyarakat dan berisiko menimbulkan komplikasi berupa ulkus kaki diabetes. Upaya pencegahan dini melalui edukasi dan pemanfaatan layanan kesehatan menjadi penting untuk menekan angka kesakitan dan kecacatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman kader dan masyarakat mengenai deteksi dini kaki diabetes serta pengenalan paket manfaat BPJS Kesehatan untuk layanan ortotik prostetik. Metode yang digunakan adalah sosialisasi, pelatihan kader, pemberian media edukasi berupa buku saku, pemeriksaan gula darah, skrining kaki diabetes dengan Harris Mat dan monofilament, serta diskusi interaktif yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Cilandak Timur Jakarta Selatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan deteksi dini kaki diabetes, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko komplikasi diabetes, serta pemahaman yang lebih baik mengenai prosedur dan manfaat BPJS Kesehatan untuk akses layanan ortotik prostetik. Partisipasi masyarakat mencapai lebih dari 70% sasaran dan interaksi berlangsung aktif. Pembahasan menunjukkan bahwa keterlibatan kader kesehatan sebagai perpanjangan tangan puskesmas efektif dalam memperkuat kesadaran masyarakat sekaligus mempererat hubungan dengan fasilitas kesehatan. Keterbatasan peralatan skrining dan durasi pelatihan menjadi tantangan yang perlu ditindaklanjuti. Kesimpulannya, program ini berhasil meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta akses informasi masyarakat terkait deteksi dini diabetes dan layanan ortotik prostetik melalui BPJS Kesehatan, serta berpotensi dikembangkan menjadi program berkelanjutan dengan dukungan fasilitas dan pelatihan tambahan.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2843 SKRINING KESEHATAN KAKI KOMUNITAS BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM HARI DISABILITAS 2025-12-05T16:55:41+07:00 Raden Achmad Candra Putra1 [email protected] Tri Riana Lestari [email protected] Syifa Fauziah1 [email protected] <p>Kegiatan skrining kesehatan kaki bagi penyandang disabilitas bertujuan mendeteksi dini masalah kaki, mencegah komplikasi, dan memberikan intervensi melalui teknologi ortotik-prostetik. Program ini juga memperkenalkan profesi Ortotis Prostetis serta mendukung akses kesehatan inklusif dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Kegiatan dilaksanakan melalui skrining fisik kaki, edukasi tentang pencegahan dan perawatan masalah kaki, serta konsultasi langsung untuk pemberian solusi dan rekomendasi penggunaan alat bantu ortotik-prostetik bagi penyandang disabilitas. Partisipan penelitian didominasi oleh anak dengan Cerebral Palsy, diikuti Down Syndrome dan Hydrocephalus, dengan gejala kompleks berupa spastisitas, kontraktur, serta keluhan motorik dan kognitif. Hambatan aktivitas sehari-hari tampak signifikan, termasuk ketidakmampuan berjalan, kesulitan komunikasi, serta deformitas seperti flat foot dan ankle equinus. Penggunaan alat bantu ortosis (AFO, KAFO, insole) menjadi kebutuhan utama, didukung peran fisioterapi, terapi wicara, dan okupasi. Namun, keterlambatan diagnosis dan akses terapi mengurangi efektivitas penanganan. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan multidisiplin jangka panjang untuk meningkatkan fungsi motorik, komunikasi, dan kualitas hidup anak.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2844 IMPLEMENTASI PAREN-DENT MENDORONG ORANGTUA MENGAWASI PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI ANAK 2025-12-05T16:59:38+07:00 Rini Widiyastuti [email protected] Erwin Erwin [email protected] Ngatemi Ngatemi [email protected] <p>Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan global yang signifikan pada anak, dengan prevalensi tinggi di Indonesia mencapai 54% pada kelompok usia 5-9 tahun. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mendampingi pemeliharaan kesehatan gigi anak menjadi faktor penyebab utama. Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengimplementasikan modul PARENT-DENT untuk meningkatkan kemandirian menyikat gigi anak usia dini. Metode kegiatan menggunakan pendekatan one-group pre-test post-test melalui edukasi dan pendampingan terhadap 40 ibu dan siswa PAUD Fithrah di Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan. Intervensi terdiri dari penyuluhan, pelatihan teknik menyikat gigi, demonstrasi, dan pendampingan selama 10 hari menggunakan modul panduan. Pengukuran evaluasi menggunakan lembar&nbsp;<em>time table </em>dan dianalisis secara deskriptif&nbsp;. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemandirian menyikat gigi yang signifikan dari 5% menjadi 77,5% setelah intervensi. Tingkat partisipasi orang tua mencapai 100% dalam mendampingi anak menyikat gigi minimal dua kali sehari. Pembahasan mengungkapkan bahwa pendekatan pemberdayaan orang tua melalui modul terstruktur efektif dalam membentuk kebiasaan dan kemandirian anak. Disimpulkan bahwa implementasi modul PARENT-DENT berhasil meningkatkan kemandirian menyikat gigi anak melalui pendampingan orang tua yang konsisten. Disarankan agar modul ini dapat diadopsi sebagai media edukasi dalam program kesehatan gigi masyarakat.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2845 INTERVENSI BERBASIS SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK 2025-12-05T17:03:36+07:00 Roben Suhadi Pasaribu [email protected] Rikawarastuti Rikawarastuti [email protected] Ita Yulita [email protected] Ni Nyoman Kasihani [email protected] Dian Muliawati [email protected] Olinne Juzika [email protected] Vitri Nurilawaty [email protected] Emini Emini [email protected] Ngatemi Ngatemi [email protected] <p>Tingginya prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat global. World Health Organization (2022) melaporkan bahwa sekitar 3,5 miliar orang di seluruh dunia mengalami penyakit gigi dan mulut. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (2023) menunjukkan bahwa setengah penduduk berusia ?3 tahun mengalami keluhan gigi dan mulut dalam setahun terakhir, namun hanya sebagian kecil yang memanfaatkan pelayanan medis. Rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan akses pelayanan turut memperburuk kondisi ini, termasuk pada anak sekolah dasar yang berada pada fase pembentukan perilaku kesehatan jangka panjang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat insidental di Madrasah Ibtidaiyah Al Anwar, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kesehatan gigi dan mulut. Kegiatan dilaksanakan selama satu hari oleh sembilan dosen dengan sasaran murid kelas 1–6 melalui ceramah interaktif menggunakan flipchart, demonstrasi teknik menyikat gigi yang benar dengan model rahang dan sikat gigi, serta praktik langsung oleh murid. Setiap murid juga menerima paket sikat gigi dan pasta gigi untuk mendukung praktik di sekolah dan di rumah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman, partisipasi aktif, dan antusiasme murid. Banyak murid mampu menjawab pertanyaan evaluasi dengan benar dan mempraktikkan teknik menyikat gigi yang benar. Program ini selaras dengan rekomendasi WHO dan FDI yang mendorong promosi kesehatan gigi berbasis sekolah. Oleh karena itu, edukasi kesehatan gigi yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk membentuk perilaku sehat sejak dini dan menurunkan beban penyakit di masa depan.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2846 PEMBERDAYAAN BKR & POSYANDU REMAJA UNTUK MENGKAWAL GENERASI EMAS SEHAT DAN BEBAS STUNTING 2025-12-05T17:10:00+07:00 Tri Anjaswarni [email protected] Sri Winarni [email protected] Edy Suyanto3 [email protected] Ibnu Fajar [email protected] Eko Sari Wahyuni [email protected] <p>Pemberdayaan adalah upaya agar seseorang atau kelompok menjadi berdaya. Upaya pemberdayaan di masyarakat untuk mengkawal kesehatan remaja dilakukan oleh Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Posyandu Remaja. BKR bentuk partisipasi masyarakat dibina BKKBN dan Posyandu remaja dibina Puskesmas UPT Dinas Kesehatan. Permasalahan saat ini terkait keberadaan Posyandu Remaja dan BKR adalah belum terintegrasi dan belum satunya langkah dalam mengkawal kesehatan remaja. Salah satu pengkawalan yang penting dilakukan oleh kader di Posyandu Remaja dan BKR adalah pengkawalan kesehatan khususnya dalam pencegahan lahirnya generasi stunting ditinjau dari faktor remaja. Untuk mewujudkan Generasi Emas yang sehat dan bebas stunting, diperlukan upaya pencegahan dan pelayanan kesehatan yang komprehensif dimulai dari remaja dan keluarga remaja. Tujuan pengabdian adalah meningkatnya status kesehatan remaja melalui pengelolaan bersama dan terintegrasi antara BKR dan Posyandu Remaja. Metode kegiatan pengabdian masyarakat adalah 1) <em>Focus Group Discussion</em>, 2) Pelatihan revitalisasi posyandu 3) pelatihan kader Kesehatan, 4) pendampingan berkelanjutan, 5) Monitoring dan evaluasi. Hasil FGD adanya kesamaan tujuan dalam mengkawal Kesehatan remaja khususnya pencegahan lahirnya generasi stunting. Hasil pelatihan terdapat peningkatan kemampuan peserta kader Kesehatan, BKR dan remaja. Hasil pengukuran kemampuan pasca pelatihan menunjukkan adanya perbedaan signifikan sebelum dan sesudah pelatihan dengan perbedaan nilai rata-rata = 31,77, hasil uji beda menunjukkan nilai t = -8.539 dan p-value = 0,000. Setelah pelatihan dilakukan kegiatan pendampingan berkelanjutan dan monev. Kesimpulan: pelatihan dan pendampingan berkelanjutan dalam layanan posyandu terintegrasi adalah upaya strategis untuk untuk meningkatkan peran serta Masyarakat agar mereka berdaya dalam mewujudkan generasi emas sehat bebas stunting, serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2848 PEMBERDAYAAN KADER DAN MASYARAKAT MELALUI INOVASI GLUKOMETER NON-INVASIF UNTUK DETEKSI DINI DIABETES MELITUS 2025-12-05T17:14:54+07:00 Yudha Anggit Jiwantoro [email protected] Ni Putu Karunia Ekayani [email protected] Ni Putu Dian Ayu Anggraeni [email protected] Yopi Harwinanda Ardesa [email protected] <p>Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat di Indonesia. Deteksi dini kadar glukosa darah penting untuk mencegah komplikasi, namun sebagian besar masyarakat enggan melakukan pemeriksaan rutin karena hambatan psikologis seperti rasa takut jarum serta keterbatasan akses pemeriksaan. Inovasi glukometer non-invasif menjadi alternatif yang lebih nyaman dan mudah digunakan untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan interaktif, demonstrasi, dan praktik penggunaan glukometer non-invasif yang melibatkan 31 responden (kader dan masyarakat). Instrumen penelitian berupa pre-test dan post-test pengetahuan serta observasi langsung terhadap penggunaan alat. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat peningkatan pengetahuan dan penerimaan alat. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 65 (<em>pretest</em>) menjadi 90 (<em>posttest</em>), dengan kenaikan sebesar 25 poin, hasil analisis menunjukkan ada pengaruh antara sebelum dan setelah edukasi p-value (0,000). Kendala teknis yang muncul adalah akurasi pada kadar normal yang lebih rendah dan perlunya stabilisasi posisi jari, namun hal ini dapat diatasi dengan pengembangan lebih lanjut. Temuan ini mengindikasikan bahwa glukometer non-invasif efektif dalam mengurangi hambatan psikologis masyarakat dan dapat digunakan oleh kader untuk skrining di tingkat komunitas. Inovasi ini berpotensi menjadi solusi rendahnya pemeriksaan kesehatan rutin dan mendukung program deteksi dini penyakit tidak menular di posyandu maupun puskesmas.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2849 EDUKASI MELALUI APLIKASI GIGIKU HARTAKU DI PANTI ASUHAN YOS SUDARSO CILANDAK JAKARTA SELATAN 2025-12-05T17:18:39+07:00 Jusuf Kristianto [email protected] Dian Muliawati [email protected] Rini Widiyastuti [email protected] Ita Yulita [email protected] Rikawarastuti Rikawarastuti [email protected] Erni Mardianti [email protected] Erwin Erwin [email protected] <p>Pengabdian kepada masyarakat ini didasarkan pada riset. Diketahui bahwa tingkat karies gigi pada anak-anak panti asuhan Yos Sudarso Cilandak masih tinggi karena kurangnya pengetahuan, sikap, dan kebiasaan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Tujuan dari Pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan kemampuan anak-anak dalam merawat kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh. Metode yang digunakan dimulai dengan pemeriksaan kondisi kebersihan gigi dan mulut, lalu dilanjutkan dengan penyuluhan menggunakan aplikasi gigiku hartaku dan teknik menggosok gigi yang benar melalui demonstrasi dan sikat gigi bersama. Pada kunjungan berikutnya, dilakukan penyuluhan kembali dan pemeriksaan ulang untuk melihat peningkatan kemampuan anak-anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hasil dari pengabdian masyarakat sebelum dan sesudah penyuluhan menunjukkan penurunan indeks OHIS dari 2,04 menjadi 1,5. Jumlah peserta pengabdian kepada masyarakat &nbsp;ini adalah 32 anak asuh panti asuhan . Dari hasil ini terlihat adanya penurunan rata-rata OHIS sebesar 0,5. Diharapkan dengan adanya kebersihan gigi dan mulut yang lebih baik, dapat tercipta edukasi kesehatan yang terpadu bagi semua anak di panti asuhan Yos Sudarso Cilandak, Jakarta Selatan.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2851 UPAYA PENCEGAHAN KETUBAN PECAH DINI MELALUI EDUKASI ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS SIMBARWARINGIN LAMPUNG TENGAH 2025-12-05T17:26:33+07:00 Martini Fairus [email protected] Martini Martini [email protected] <p>Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, termasuk ketuban pecah dini. Edukasi kesehatan menjadi strategi preventif yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil terkait pencegahan anemia sekaligus menurunkan faktor risiko ketuban pecah dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi mengenai anemia pada ibu hamil sebagai upaya pencegahan ketuban pecah dini. Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan kepada 15 ibu hamil di wilayah layanan primer, Puskesmas Simbarwaringin Lampung Tengah, dengan materi meliputi pengertian anemia, faktor risiko, dampak terhadap kehamilan, serta pencegahan melalui pola makan bergizi seimbang dan kepatuhan konsumsi suplemen zat besi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai anemia dan kaitannya dengan ketuban pecah dini, yang ditunjukkan dari respons aktif dalam sesi tanya jawab dan komitmen peserta untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi kelompok memperlihatkan bahwa sebagian besar peserta baru mengetahui hubungan anemia dengan risiko ketuban pecah dini setelah mengikuti penyuluhan. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan sederhana dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil mengenai pentingnya pencegahan anemia dan ketuban pecah dini. Kesimpulannya, edukasi anemia pada ibu hamil di layanan primer berkontribusi positif dalam meningkatkan pengetahuan dan diharapkan mampu mendukung upaya pencegahan komplikasi kehamilan.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2852 PENINGKATAN PENGETAHUAN KADER MELALUI PELATIHAN PEMANFAATAN BUKU KIA EDISI 2024 2025-12-05T17:28:55+07:00 Rahma Dian Hanifarizani [email protected] Linda Ratna Wati [email protected] Krisjentha Iffah Agustasari [email protected] Dian Kusumaningtyas [email protected] Nur Aini Retno Hastuti [email protected] <p>Kesejahteraan ibu dan anak menjadi bagian dari prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) menjadi salah satu media yang dapat dijadikan panduan dalam memantau kondisi ibu dan anak. Buku KIA edisi 2024 mengalami pengembangan signifikan yang lebih menekankan pada keaktifan ibu. Para kader kesehatan yang bertugas sebagai fasilitator penggunaan buku KIA di masyarakat di Desa Wandanpuro belum dibekali cara memanfaatkan buku tersebut. Dilakukan pelatihan yang dibagi menjadi dua tahap. Pelatihan tahap satu mengenai kesehatan ibu dan pelatihan tahap dua membahas tentang kesehatan anak yang dilakukan dengan metode klasikal. Hasil evaluasi didapatkan kenaikan pengetahuan pada yang terlihat dari nilai <em>post-test</em> yang lebih tinggi dibandingkan <em>pre-test</em>. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan pelatihan berbasis buku KIA efektif dalam meningkatkan pemahaman kader.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2853 EDUKASI PENCEGAHAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA PENGRAJIN ANYAMAN ECENG GONDOK 2025-12-05T17:32:44+07:00 Rina Fitriana Rahmawati [email protected] Payung Hasibuan [email protected] Deby Eka Supadma [email protected] Raden Achmad Candra [email protected] Deviana Daudsyah [email protected] <p>Gangguan muskuloskeletal merupakan gangguan yang sering dikeluhkan oleh masyarakat luas. Gangguan ini &nbsp;kerap terjadi pada otot dan tulang; ditandai dengan nyeri, kram, kesemutan, dan pegal-pegal. Kondisi ini sering terjadi akibat posisi tubuh tidak ergonomis, aktivitas berulang, dan intensitas kerja yang berlebihan. Pengrajin anyaman eceng gondok di Tangerang Selatan, Banten banyak melakukan pekerjaan menganyam secara manual dengan posisi duduk membungkuk dalam waktu lama, sehingga berisiko tinggi mengalami gangguan muskuloskeletal. Diperlukan upaya pencegahan untuk mengurangi risiko tersebut.</p> <p><strong>Metode:</strong><br>Kegiatan pengabdian masyarakat oleh tim Poltekkes Jakarta I dilakukan melalui persiapan, kunjungan lokasi, serta edukasi. Edukasi ke masyarakat meliputi penjelasan gangguan muskuloskeletal, pembagian leaflet, pemberian contoh posisi ergonomis, latihan peregangan, dan diskusi kelompok bersama pengrajin.</p> <p><strong>Hasil:</strong><br>Dari diskusi di lapangan, ditemukan bahwa seluruh pengrajin pernah mengalami nyeri punggung dan pegal-pegal, 75% mengalami kaku leher, dan 50% kesemutan tangan. Edukasi diterima baik, terlihat dari antusiasme pengrajin dalam diskusi dan banyaknya pertanyaan yang diajukan.</p> <p><strong>Pembahasan:</strong><br>Pengrajin anyaman eceng gondok rentan mengalami gangguan muskuloskeletal karena posisi kerja tidak ergonomis, aktivitas berulang, dan intensitas kerja yang cukup tinggi. Edukasi pencegahan dan latihan peregangan mampu memberikan pemahaman serta meningkatkan kesadaran pengrajin untuk memelihara kesehatan tubuh.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong><br>Gangguan muskuloskeletal banyak dialami oleh pengrajin eceng gondok. Edukasi pencegahan gangguan muskuloskeletal bermanfaat untuk mencegah gangguan tersebut serta meningkatkan kesadaran pengrajin untuk selalu memperhatikan tingkat kesehatannya.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2854 OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG REMAJA MELALUI EDUKASI GIZI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL DI SMA ELIM MAKASSAR 2025-12-05T17:37:30+07:00 Rosita Passe [email protected] Syamsuryanita Saleh [email protected] Nurul Ikawati [email protected] Sumarni Marwang [email protected] <p>Salah satu bentuk upaya dalam memelihara Kesehatan masyarakat adalah melalui Posyandu remaja. Posyandu remaja memiliki peran penting untuk menjaga kesehatan proses tumbuh kembang remaja, karena posyandu remaja merupakan unit pelayanan kesehatan terkecil yang paling dekat keseharian warga dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kesehtaan pada remaja. Puskesmas Tamalanrea yang merupakan mitra dalam kegiatan ini merupakan penyelenggara kesehatan untuk remaja salah satu wilayah kerja dari puskesmas Tamalanrea adalah SMA Elim Makassar. Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan di SMA Elim Makassar jumlah kelas X laki-laki sebanyak 42 orang dan perempuan sebanyak 39 orang. Sedangkan kelas XI laki-laki sebanyak 55 orang dan perempuan sebanyak 64 orang. Tujuan: pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk memberikan edukasi, melakukan pengukuran status gizi pada remaja untuk meningkatkan kualitas hidup remaja. Metode yang di gunakan yaitu menggunakan dengan memberikan pre-test dan post-test dan memberikan materi terkait gizi pada remaja. kegiatan ini di lakukan dengan pemberian edukasi pemberian eduksi gizi pada remaja terkait makanan dan zat gizi, sumber-sumber zat gisi pada makanan, makanan yang aman di konsumsi sehingga tidak menimbulkan penyakit dan melakukan pengukuran status gizi pada remaja. Hasil dari kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan dimana rata-rata nilai quisioner <em>pre-test</em> diperoleh 84,12 setelah penyuluhan berubah menjadi 93,96. dengan nilai ? 0,000. yang berarti terjadi peningkatan pengetahuan tentang gizi pada remaja .</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I https://ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id/index.php/phpj/article/view/2855 INOVASI PENGABDIAN MASYARAKAT : EDUKASI KESEHATAN GINJAL PADA PERKUMPULAN MARGA RAMBE KOTA PALEMBANG 2025-12-05T17:40:30+07:00 Sarmalina Simamora [email protected] Dina Pratiwi Sitio [email protected] Benedicta Ardea Katri Rosari [email protected] Sonlimar Mangunsong Mangunsong [email protected] <p><strong>Latar Belakang: </strong>Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu penyakit tidak Indonesia mencapai 3,8 per mil penduduk, dan angka ini diperkirakan terus meningkat. Penyakit ginjal kronis berkaitan erat dengan faktor risiko gaya hidup, seperti hipertensi, diabetes mellitus, konsumsi obat atau jamu secara sembarangan, serta pola makan tinggi garam, gula, dan lemak. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan ginjal menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kejadian gangguan ginjal. Edukasi kesehatan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat, seperti membatasi konsumsi makanan berisiko, minum air putih dalam jumlah cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Melalui pendekatan edukasi yang tepat, diharapkan masyarakat dapat mengadopsi gaya hidup sehat dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius. Perkumpulan RT dan Marga Rambe Bersinar di Kota Palembang merupakan komunitas berkumpul setiap bulan, yang para anggotanya kaum Bapak dan Ibu bekerja di sektor formal dan non-formal, sehingga memiliki keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan. Selain itu, kebiasaan konsumsi makanan tinggi garam, penggunaan obat/jamu tanpa pengawasan medis, serta rendahnya kesadaran untuk pemeriksaan kesehatan rutin menjadi tantangan yang nyata. Oleh karena itu, diperlukan suatu inovasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat untuk memberikan edukasi tentang kesehatan ginjal yang aplikatif, interaktif, dan mudah dipahami oleh komunitas tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anggota Perkumpulan Marga Rambe Bersinar mengenai pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini. Melalui metode ceramah interaktif, diskusi, pembagian media edukatif, serta pemeriksaan kesehatan sederhana, diharapkan peserta mampu mengidentifikasi faktor risiko, memahami cara pencegahan, serta menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat menjadi model inovasi pengabdian masyarakat yang berkontribusi dalam upaya pencegahan penyakit ginjal di tingkat komunitas.</p> 2025-12-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Poltekkes Kemenkes Jakarta I